URGENSI MATERI UNGGAH-UNGGUH BASA MATA PELAJARAN BAHASA JAWA DALAM IMPLEMENTASI SOPAN SANTUN PADA PESERTA DIDIK
Unggah-ungguh basa dalam Bahasa Indonesia adalah sopan santun atau tata krama berbahasa. Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah penting sekali diajarkannya materi unggah-ungguh basa, karena seiring berkembangnya zaman banyak sekali peserta didik yang tidak mengetahui unggah-ungguh basa padahal hal itu sangat fatal bila tidak diajarkan kepada peserta didik sejak dini. Oleh
Oleh: Nanda Arif Wijayanti, S.Pd. Guru Bahasa Jawa SMA Negeri 7 Surakarta

Unggah-ungguh basa dalam Bahasa Indonesia adalah sopan santun atau tata krama berbahasa. Pembelajaran bahasa Jawa di sekolah penting sekali diajarkannya materi unggah-ungguh basa, karena seiring berkembangnya zaman banyak sekali peserta didik yang tidak mengetahui unggah-ungguh basa padahal hal itu sangat fatal bila tidak diajarkan kepada peserta didik sejak dini. Oleh karena itu, ini adalah tanggung jawab besar guru bahasa Jawa yang harus mampu mengajarkan unggah-ungguh basa dan menanamkan hal tersebut kepada peserta didik.

Menurut Suharti (2006: 151) pembelajaran bahasa Jawa selain mengajarkan bahasa dan sastra Jawa juga perlu diarahkan untuk terjadinya transfer nilai-nilai budaya. Berdasarkan pengertian pembelajaran bahasa Jawa yang dijabarkan di atas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Jawa adalah mata pelajaran wajib di sekolah dasar yang mempelajari tentang bahasa, sastra, serta nilai-nilai budaya.

Jadi dalam mata pelajaran Bahasa Jawa pendidik tidak hanya mengajarkan peserta didik tentang materi materi umum seperti menyanyi lagu Jawa , berpidato, membaca puisi bahasa Jawa tetapi pendidik juga harus bisa mengajarkan nilai-nilai budaya yang telah ada, supaya tidak dilupakan pada masa yang akan datang.

Pentingnya unggah-ungguh basa dalam kehidupan masyarakat adalah unggah-ungguh basa mengatur cara bertingkah laku masyarakat sesuai dengan kebudayaan Jawa. Unggah-ungguh Jawa sering diartikan sebagai tata krama atau sopan santun seseorang, identik dengan nilai hormat atau adanya tingkatan hirarkhi. Jadi mereka akan terlihat menghargai satu sama lain dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Mulder (dalam setyorini, 2001:41) masyarakat Jawa pedalaman adalah masyarakat yang sangat kental dilandasi oleh nilai-nilai budaya Jawa yang dianggap halus, menekankan sopan santun dan cenderung menghindari konflik. Masyarakat Jawa pedalaman memiliki corak kehidupan masyarakat yang homogen dan banyak dipengaruhi oleh sistem kekeluargaan. Sistem dalam masyarakat Jawa sudah mulai dimainkan sejak berada dalam lingkungan keluarga. Sehingga untuk melihat karakteristik masyarakat Jawa dapat dilakukan melalui sistem yang ada dalam keluarga Jawa.

Keluarga Jawa memiliki sistem pertalian yang diwujudkan dengan penyebutan istilah-istilah dalam keluarga dan sanak saudaranya. Geertz (1983:21) Pola penyebutan istilah-istilah yang dapat ditemui dalam masyarakat Jawa yakni akhiran-akhiran seperti dhe, lik, mas mbakyu. Jika individu ditempatkan sebagai seorang anak maka istilah dhe yang artinya gedhe/besar untuk penyebutan kakak dari ayah atau ibu, lik yang artinya cilik/kecil merupakan penyebutan bagi adik dari ayah atau ibu. Mas dan mbakyu merupakan istilah untuk menyebut saudara dalam keluarga Jawa yang lebih tua, atau bisa juga sebutan untuk anak dari dhe.

Proses penanaman nilai-nilai sosial yang diajarkan pendidik kepada peserta didik adalah proses sosialisasi.  Mangunsuwito (2002) unggah-ungguh yaitu sopan santun atau tata krama. Unggah-ungguh sebagai nilai yang mengatur bagaimana seseorang bertindak sopan, menghormati, bertindak sesuai, berperilaku yang semestinya (baik), menghargai, dan juga berbahasa yang sesuai dengan nilai dan norma masyarakat yang berlaku. Unggah-ungguh umumnya dilakukan oleh individu yang memiliki status lebih rendah ke status sosial yang lebih tinggi atau yang sering disebut dengan nilai hormat.

Diharapkan dengan adanya pembelajaran unggah-ungguh basa ini peserta didik akan semakin memahami bagaimana cara bersosialisasi dalam masyarakat yang baik dengan mengedepankan sikap sopan dan santun sesuai nilai dan norma yang berlaku.

Jadi saya di sini, terus berupaya mengajarkan unggah-ungguh basa kepada peserta didik agar mereka terbisa berperilaku yang baik. Ketika itu dibiasakan maka mereka akan melakukan itu tanpa adanya rasa keterpaksaan dan mereka akan merasa terbiasa dengan sendirinya. Unggah-ungguh atau tata krama adalah hal yang sangat penting dan mereka harus memiliki pengetahuan tentang itu semua.

Menurut Arafik (2013: 29) mata pelajaran bahasa Jawa adalah program pembelajaran bahasa untuk mengembangkan pengetahuan dan keterampilan bahasa Jawa serta sikap positif terhadap bahasa Jawa itu sendiri. Sedangkan menurut Suharti (2006: 151) pembelajaran bahasa Jawa selain mengajarkan bahasa dan sastra Jawa juga perlu diarahkan untuk terjadinya transfer nilai-nilai budaya didalamnya. Berdasarkan pengertian pembelajaran bahasa Jawa yang dijabarkan diatas maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran bahasa Jawa adalah mata pelajaran wajib di sekolah dasar yang mempelajari tentang bahasa, sastra, serta nilai-nilai
budaya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *